Tempat kursus bahasa Inggris di Bogor

Di awal tahun 2019 ini saya mulai mengikuti pelatihan bahasa Inggris, saya ingin bisa berbahasa inggris dengan baik walaupun tidak sefasih pembicara asli (native speaker). Walaupun banyak yang bilang tidak perlu kursus, sering-sering aja ngobrol menggunakan bahasa inggiris, atau sering-sering nonton film berbahasa inggris, mendengarkan lagu berbahasa inggris, dll. Tapi ya, sepertinya saya butuh kursus hehe.

Ada dua tempat kursus bahasa Inggris di kota Bogor yang menjadi target saya, karena keduanya menyediakan kelas untuk dewasa (adult class), jadi ya saya coba saja.

Everyday English (Eden)
Pertama, saya coba mengikuti tes di Eden Everyday English, sebelum melakukan tes ada biaya pendaftaran sebesar Rp. 100rb . Tes nya tertulis (pilihan ganda) dan percakapan dengan native speaker (orang bule), ya… ketika conversation test saya dengan native speaker, diawali dengan perkenalan, tentang kegiatan sehari-hari, hoby dan percapakan sehari-hari lainnya. Setelah tes selesai hasilnya diberitahukan bahwa cocoknya masuk kelas mana. Saya sendiri masuk ke kelas beginner 😛 . Lalu, diberikan juga trial 1 hari untuk mengikuti kelas secara langsung, jadi saya coba ikuti kelas trial nya. Ketika mengikuti trial class conversation pengajarnya bukan native speaker, entah jika kelas lain, tapi tentu saja walaupun bukan native, tapi bahasa inggrisnya sangat bagus. Setelah selesai trial class sekitar 2 jam, saya masih bingung akan lanjut atau tidak. Jika lanjut maka biaya per bulannya adalah 700rb/bulan untuk 2 x pertemuan setiap minggunya untuk adult class, belum termasuk biaya buku, saya tidak tahu berapa biaya buku nya. Biaya diatas mungkin bisa berubah sewaktu-waktu. Silakan tanyakan saja langsung ke eden jika teman-teman ingin mengetahui lebih lanjut tentang rincian biaya.

English First (EF)
Kedua, setelah mengikuti trial class di eden, beberapa hari kemudian saya coba daftar di English First secara online melalui website resmi ef.co.id, saya livechat dengan bagian customer service nya lalu tak berapa lama saya dihubungi via telepon oleh pihak EF cabang terdekat lalu kemudian diminta kesediannya untuk hadir di English First untuk tes penempatan. Kemudian saya bertanya untuk tes nya apakah bayar? dan ternyata gratis. Okelah, dalam hati saya… saya coba ikut tes saja, saya awalnya agak ragu, kenapa? karena dari informasi yang saya baca di internet, biaya di EF ini cukup mahal buat saya. Tapi ya tidak ada salahnya dicoba tes.

Akhirnya, sepulang kerja saya coba ke kampus EF di jalan Padjadjaran Bogor. Kemudian bertemu dengan respsionis, lalu ditanya-tanya tentang kebutuhan mengikuti kursus tujuan untuk apa, dan lain-lain. Setelah itu langsung memulai EFSET test. Soal-soal berupa pilihan ganda, dan diantaranya adalah listening, jadi kita mendengarkan kemudian memberikan jawaban yang tepat. Tesnya sudah berbasis komputer.

Setelah tes selesai, lalu hasil dari EFSET keluar. Kemudian, dilanjut dengan conversation test, ketika conversation test saya tidak dengan native speaker, tapi tentu saja bahasa inggris nya sangat bagus dan sangat ramah.

Setelah selesai kedua test tersebut, kemudian hasilnya diberitahukan lengkap dengan rincian biaya. Melihat rincian biayanya, wah… ternyata memang benar, cukup mahal. Dan untuk pembayarannya harus langsung per course, dan untuk setiap course nya adalah 12 minggu atau 3 bulan dengan total biaya sekitar 5jtaan kemudian saat itu saya dapat di diskon menjadi 4jtan. Jadi tidak bisa bayar per bulan.

Namun, jika dilihat dari fasilitas yang disedikan, saya rasa sesuai, fasilitas yang lengkap, ruang belajar yang nyaman (cozy), sudah termasuk buku dan akses ke aplikasi pembelajaran online. Ya… sesuailah.

Jadi, mana yang saya pilih? emm… untuk yang ini rahasia ya, biar ngga ngiklan, promosinya cukup lewat penjelasan pada tulisan diatas saja hehe. Yang pasti, saya sudah join dengan salah satu English Course tersebut.

Hasilnya seperti apa? apakah saya bisa cas cis cus menggunakan bahasa bule? mari kita lihat 3 bulan kedepan hehe.

Gowes Tour Bogor to Ujung Genteng

Kali ini saya ingin memposting video tentang kegiatan gowes saya bersama kedua orang sobat, yaitu Gowes dari kota Bogor ke Pantai Ujung Genteng, Surade. Gowes Tour Bogor Ujung Genteng ini kami lakukan pada tanggal 02 September 2017, namun baru sempat saya upload video nya ke youtube tahun 2018 🙁

Tidak perlu panjang kali lebar lagi, silakan disaksikan saja video pergowesan tour kami dari bogor ke pantai ujung genteng, durasi video nya cukup lama, 48 menit 29 detik, tapi tentunya lebih lama gowes real nya hehe.

Peserta Gowes :
– D’Wahyu Nugroho
– MawarDuri
– Oky Oktaviandi

Mudah-mudahan gowes tour bisa terus berlanjut.

Jarak Tempuh (Pergi) : ±172 KM
Waktu Tempuh (Pergi) : ±17 Jam (Termasuk ISOMA, dll)

Total Jarak Tempuh (PP) : ±344 KM
Waktu Tempuh (PP) : ±34 Jam (Termasuk ISOMA, dll)

Video di youtube : https://www.youtube.com/watch?v=dbOolSL0-go

Nanjak pakai single speed, ternyata asik berat!

Alhamdulillah, setelah sekian lama tidak posting, akhirnya saya bisa posting kembali kegiatan seputar bersepeda. Padahal banyak kegiatan sepedaan yang sudah dilakukan dan ingin diposting, tapi kenapa rasanya sedang malas nulis.

Kali ini saya ingin sedikit berbagi cerita tentang pengalaman Nanjak menggunakan sepeda single speed yang mirip-mirip fixed gear, tapi sebenarnya bukan fixed gear karena rem nya pakai torpedo, real fixed gear bukan pakai torpedo. Saya sebenarnya ada sepeda yang asli/real fixed gear, tapi belum berani menggunakan jarak jauh apalagi turunan, ah.. cukup mengerikan hehe.

Ok, pada sabtu 17 Maret 2018 saya gowes ke daerah curug nangka, Bogor. Biasanya kesini menggunakan MTB, tapi kali ini ingin sedikit beda, jadi pakai sepeda single speed.

nanjak pakai single speed, fixed gear climbing

selain itu, sepeda MTB saya pun memang sedang tidak bisa digunakan karena masalah dengan rem dan shifter.

Ternyata, climbing menggunakan single speed itu asiiik, tapi sangat berat untuk dijalani! Jalur ke curug nangka memang lebih banyak tanjakan walaupun tidak begitu curam. Ketika menggunakan MTB, tanjakan ke curug nangka ini rasanya tidak begitu berarti, tapi ketika mencoba menggunakan sepeda single speed, ternyata berat sekali hehe

single speed climbing, gowes curug nangka, fixed gear

Walaupun berat, tapi saya sudah berniat untuk sampai ke tujuan, jadi pelan tapi pasti saya nikmati setiap tanjakan yang ada.

nanjak curug nangka

curug nangka gowes

Sebenarnya tidak begitu cape, tapi apa ya, sepertinya karena single speed, kaki jadi lebih lelah dari biasanya. Untuk nafas masih panjang, hanya kaki saja rasanya menjadi lemas.

Akhirnya, sampai di kawasan curug nangka. Saya sempatkan untuk istirahat sejenak, melemaskan kaki, nyemil, dan isi cairan tubuh. Beruntung, cuacanya sangat asik untuk bersepedah, sedikit gerimis, sangat sejuk.

nanjak sepeda single speed

curug nangka bogor

Setelah puas istirahat, saya lanjutkan gowes ke arah Kampoeng Salaka, tapi saya tidak ke Salaka nya, tapi mencari mesjid karena waktu dzuhur telah tiba. Setelah itu, saya lanjutkan perjalanan melalui NFBS Bogor, saya sebenarnya baru tahu kalau ada yang namanya NFBS Bogor, ada tempat seperti camping ground nya juga dan ada seperti perumahan. Sangat indah pemandangannya. Saya sempatkan juga berfoto di tempat itu.

nfbs bogor, camping ground

perumahan,nfbs bogor

Ternyata sekarang daerah pegunungan memang jadi tempat favorit ya, perumahan-perumahan mulai merambah ke kawasan kaki gunung. Padahal saya masih ingat dulu sewaktu masih belum sekolah, mungkin sekitar usia 6 atau 7 tahunan, orang-orang banyak yang ingin jalan-jalan ke kota, dan salah satunya saya karena dulu saya tinggal di kampung dekat pesisir pantai, biasa main di hutan atau pantai, sangat ingin sekali main ke kota. Tapi sekarang jadi terbalik, orang-orang yang tinggal di perkotaan banyak yang berburu tempat-tempat yang sejuk seperti pegunungan. Mungkin karena tempat-tempat seperti itu sudah jarang ditemukan di wilayah perkotaan yang super sibuk dan penat.

Kemudian saya lanjutkan perjalanan, tujuan kali ini adalah Pulang ke rumah melewati ragasi, karena saya penasaran dengan jembatan baru nya, dulu belum ada jembatan di ragasi ini, jadi ketika akan menyeberang kita harus nyebur ke sungai, ketika hujan agak serem karena air nya deras. Ternyata dengan adanya jembatan, terlihat aktivitas warga lebih efektif dan aman, tapi sayangnya sensasi nyebur sungai untuk melintas jadi tidak ada. O iya, saya lupa memfoto jembatan nya, aduuhh.

Berhubung biasanya saya pakai MTB, jadi keasikan ngaprak, eh…saya lupa, ternyata saya sekarang sedang pakai sepeda cungkring, dan lupa kalau jalan ke daerah ini cukup berbatu, hasilnya… lanjut maaannggg…. ban cungkring, fork rigid, lewat jalan berbatu… aduhai sekali haha, tapi ternyata asik juga lewat makadam pakai sepeda macam ini, walaupun terlihat memaksakan hehe. No problem lah, yang penting bisa sampe ke rumah.

gowes ke curug nangka

Sekian, itu saja yang ingin saya tulis dan ceritakan untuk saat ini. Ada satu artikel yang sangat ingin saya posting di blog ini, yaitu perjalan gowes saya dari Bogor ke Ujung Genteng dengan 2 orang sobat, tapi masih belum sempat. Mudah-mudahan bisa segera saya posting, dan upload video nya.

Bagaimana Cara bootable Windows USB Flashdisk di Linux

Bagaimana cara membuat bootable Windows dengan USB Flashdisk di Linux? pada tulisan kali ini saya akan coba berbagi cara membuat bootable Windows dengan USB Flashdrive di Linux yaitu dengan menggunakan aplikasi yang bernama UNetbootin, cara ini tidak hanya untuk membuat bootable Windows, namun berlaku juga untuk membuat usb drive bootable Linux.

Baca juga Bagaimana Cara membuat bootable USB Flashdisk di Linux Ubuntu Dengan Startup Disk Creator

Sistem operasi Linux yang saya gunakan adalah Ubuntu 16.04 , silahkan disesuaikan jika sobat menggunakan distro Linux lainnya.

Pertama, install UNetbootin terlebih dahulu dengan cara berikut :

sudo add-apt-repository ppa:gezakovacs/ppa
sudo apt-get update
sudo apt-get install unetbootin

Setelah selesai, cari aplikasi UNetbootin pada ubuntu sobat seperti gambar dibawah ini :

Cara bootable Windows USB Flashdisk di Linux

Selanjutnya sobat pilih ISO dan USB Drive yang akan dijadikan bootable.

Cara bootable Windows USB Drive Flashdisk di Linux

Sekian, itulah bagaimana Cara bootable Windows USB Flashdisk di Linux. Selamat mencoba.