Gowes Tour Bogor to Ujung Genteng

Kali ini saya ingin memposting video tentang kegiatan gowes saya bersama kedua orang sobat, yaitu Gowes dari kota Bogor ke Pantai Ujung Genteng, Surade. Gowes Tour Bogor Ujung Genteng ini kami lakukan pada tanggal 02 September 2017, namun baru sempat saya upload video nya ke youtube tahun 2018 🙁

Tidak perlu panjang kali lebar lagi, silakan disaksikan saja video pergowesan tour kami dari bogor ke pantai ujung genteng, durasi video nya cukup lama, 48 menit 29 detik, tapi tentunya lebih lama gowes real nya hehe.

Peserta Gowes :
– D’Wahyu Nugroho
– MawarDuri
– Oky Oktaviandi

Mudah-mudahan gowes tour bisa terus berlanjut.

Jarak Tempuh (Pergi) : ±172 KM
Waktu Tempuh (Pergi) : ±17 Jam (Termasuk ISOMA, dll)

Total Jarak Tempuh (PP) : ±344 KM
Waktu Tempuh (PP) : ±34 Jam (Termasuk ISOMA, dll)

Video di youtube : https://www.youtube.com/watch?v=dbOolSL0-go

Nanjak pakai single speed, ternyata asik berat!

Alhamdulillah, setelah sekian lama tidak posting, akhirnya saya bisa posting kembali kegiatan seputar bersepeda. Padahal banyak kegiatan sepedaan yang sudah dilakukan dan ingin diposting, tapi kenapa rasanya sedang malas nulis.

Kali ini saya ingin sedikit berbagi cerita tentang pengalaman Nanjak menggunakan sepeda single speed yang mirip-mirip fixed gear, tapi sebenarnya bukan fixed gear karena rem nya pakai torpedo, real fixed gear bukan pakai torpedo. Saya sebenarnya ada sepeda yang asli/real fixed gear, tapi belum berani menggunakan jarak jauh apalagi turunan, ah.. cukup mengerikan hehe.

Ok, pada sabtu 17 Maret 2018 saya gowes ke daerah curug nangka, Bogor. Biasanya kesini menggunakan MTB, tapi kali ini ingin sedikit beda, jadi pakai sepeda single speed.

nanjak pakai single speed, fixed gear climbing

selain itu, sepeda MTB saya pun memang sedang tidak bisa digunakan karena masalah dengan rem dan shifter.

Ternyata, climbing menggunakan single speed itu asiiik, tapi sangat berat untuk dijalani! Jalur ke curug nangka memang lebih banyak tanjakan walaupun tidak begitu curam. Ketika menggunakan MTB, tanjakan ke curug nangka ini rasanya tidak begitu berarti, tapi ketika mencoba menggunakan sepeda single speed, ternyata berat sekali hehe

single speed climbing, gowes curug nangka, fixed gear

Walaupun berat, tapi saya sudah berniat untuk sampai ke tujuan, jadi pelan tapi pasti saya nikmati setiap tanjakan yang ada.

nanjak curug nangka

curug nangka gowes

Sebenarnya tidak begitu cape, tapi apa ya, sepertinya karena single speed, kaki jadi lebih lelah dari biasanya. Untuk nafas masih panjang, hanya kaki saja rasanya menjadi lemas.

Akhirnya, sampai di kawasan curug nangka. Saya sempatkan untuk istirahat sejenak, melemaskan kaki, nyemil, dan isi cairan tubuh. Beruntung, cuacanya sangat asik untuk bersepedah, sedikit gerimis, sangat sejuk.

nanjak sepeda single speed

curug nangka bogor

Setelah puas istirahat, saya lanjutkan gowes ke arah Kampoeng Salaka, tapi saya tidak ke Salaka nya, tapi mencari mesjid karena waktu dzuhur telah tiba. Setelah itu, saya lanjutkan perjalanan melalui NFBS Bogor, saya sebenarnya baru tahu kalau ada yang namanya NFBS Bogor, ada tempat seperti camping ground nya juga dan ada seperti perumahan. Sangat indah pemandangannya. Saya sempatkan juga berfoto di tempat itu.

nfbs bogor, camping ground

perumahan,nfbs bogor

Ternyata sekarang daerah pegunungan memang jadi tempat favorit ya, perumahan-perumahan mulai merambah ke kawasan kaki gunung. Padahal saya masih ingat dulu sewaktu masih belum sekolah, mungkin sekitar usia 6 atau 7 tahunan, orang-orang banyak yang ingin jalan-jalan ke kota, dan salah satunya saya karena dulu saya tinggal di kampung dekat pesisir pantai, biasa main di hutan atau pantai, sangat ingin sekali main ke kota. Tapi sekarang jadi terbalik, orang-orang yang tinggal di perkotaan banyak yang berburu tempat-tempat yang sejuk seperti pegunungan. Mungkin karena tempat-tempat seperti itu sudah jarang ditemukan di wilayah perkotaan yang super sibuk dan penat.

Kemudian saya lanjutkan perjalanan, tujuan kali ini adalah Pulang ke rumah melewati ragasi, karena saya penasaran dengan jembatan baru nya, dulu belum ada jembatan di ragasi ini, jadi ketika akan menyeberang kita harus nyebur ke sungai, ketika hujan agak serem karena air nya deras. Ternyata dengan adanya jembatan, terlihat aktivitas warga lebih efektif dan aman, tapi sayangnya sensasi nyebur sungai untuk melintas jadi tidak ada. O iya, saya lupa memfoto jembatan nya, aduuhh.

Berhubung biasanya saya pakai MTB, jadi keasikan ngaprak, eh…saya lupa, ternyata saya sekarang sedang pakai sepeda cungkring, dan lupa kalau jalan ke daerah ini cukup berbatu, hasilnya… lanjut maaannggg…. ban cungkring, fork rigid, lewat jalan berbatu… aduhai sekali haha, tapi ternyata asik juga lewat makadam pakai sepeda macam ini, walaupun terlihat memaksakan hehe. No problem lah, yang penting bisa sampe ke rumah.

gowes ke curug nangka

Sekian, itu saja yang ingin saya tulis dan ceritakan untuk saat ini. Ada satu artikel yang sangat ingin saya posting di blog ini, yaitu perjalan gowes saya dari Bogor ke Ujung Genteng dengan 2 orang sobat, tapi masih belum sempat. Mudah-mudahan bisa segera saya posting, dan upload video nya.

Peralatan/Tool kit yang perlu dibawa saat bersepeda versi ndgblog

Supaya ritual bersepeda bisa dilakukan dengan lancar, ada baiknya kita membawa peralatan sepeda yang sekiranya bermanfaat disaat darurat, misal alat pompa, tambal ban, pembuka ban, kunci L, pemotong rantai dan lainnya. Sekilas mungkin itu terdengar “ribet” ya hehe, tapi manfaat nya akan terasa memang di saat-saat darurat.

Saya misalnya, seorang yang sering mengendarai sepeda untuk “Bike to Work”. Pernah suatu waktu mengalami ban depan tertusuk serpihan besi tajam, akhirnya mau tidak mau perjalanan bersepeda menuju tempat kerja harus dihentikan sementara.

tambal ban bocor sepeda,cara tambal ban sepeda bocor,alat tambal ban sepeda,sahoo

Beruntungnya saat itu saya membawa satu set tool kit perlengkapan P3K (Pertolongan Pertama Penyebab Kerusakan/Kebocoran) hehe, kemudian saya cari tempat yang nyaman untuk melakukan tambal ban sepeda yang bocor tersebut secara mandiri.

Awalnya saya bingung, bagaimana cara menambalnya, karena ini merupakan pengalaman pertama saya menambal ban dalam sepeda secara mandiri. Namun rasa ingin mencoba sudah sangat tinggi, saya coba pahami panduan menambal ban yang tertera pada kertas yang disediakan dalam tools tersebut walaupun hanya berupa gambar singkat. Setelaah ditelaah,..oohh..akhirnya saya dapat memahami maksud dari gambar tersebut 😀

Saat itu adalah pengalaman pertama saya menambal ban sepeda langsung oleh tangan sendiri dengan perlengkapan yang telah saya beli. Ya sekilas memang ribet jika kita mendengar harus membawa perlengkapan ini itu, tapi sekarang sudah banyak yang menjual peralatan repair sepeda dalam satu paket, jadi All In One, misalnya seperti tools sepeda yang saya gunakan. Semuanya sudah dalam satu paket disimpan dalam ukuran tas kecil yang bisa dikaitkan pada frame atau stang sepeda, didalamnya terdiri dari Pompa mini, satu set kunci L + pemotong rantai dan satu lagi kunci apa itu saya lupa namanya hehe, pembuka ban serta alat tambal ban. Peralatan tersebut sudah cukup mewakili disaat-saat darurat. Jadi semuanya bisa dilakukan sendiri, kecuali jika kerusakan memang sangat berat, mau tidak mau harus diserahkan kepada ahlinya 😀

Tool Kit Sepeda :

  • Satu set All In One SAHOO Bike Repair Tools Kit
  • Harga kurang lebih IDR 100rb
  • Dibeli via Bukalapak

tambal ban bocor sepeda,cara tambal ban sepeda bocor,alat tambal ban sepeda,sahoo

tambal ban bocor sepeda,cara tambal ban sepeda bocor,alat tambal ban sepeda,sahoo

tambal ban bocor sepeda,cara tambal ban sepeda bocor,alat tambal ban sepeda,sahoo
Ini yang berfungsi untuk menambal ban dalam

Gowes ke Gunung Bunder, Pasir Reungit Jalur Pendakian Kawah Ratu

Alhamdulillah, pada minggu 16 Juli 2017 saya berkesempatan untuk gowes bersama salah satu sobat gowes saya ke Gunung Bunder, Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Waktu itu kami gowes lewat ciherang kemudian blusukan ke suatu tempat yang tidak kami kenal, yang pasti blusukan ke kebun penduduk sampai mabal ke kebun bambu yang buntu jalannya, kemudian kami keluar di sekitaran jalur ampera, lalu dari sekitaran jalur ampera tersebut kami lanjut gowes menuju Gunung bunder, melewati curug luhur, lalu sampai ke pamijahan, cibatok, dan hingga akhirnya tiba di Gunung Bunder. Jalurnya naik-turun melehoy wkwkwk.

gowes gunung bunder

taman nasional halimun salak gunung bunder kawah ratu

Sebelumnya juga saya pernah ke Gunung bunder untuk melakukan pendakian ke Kawah Ratu, tapi mengendarai sepeda motor (read : Kawah Ratu, Pendakian Jalur Pasir Reungit Gunung Bunder Bogor

Kami gowes sampai ke pintu pendakian Kawah Ratu yaitu Jalur Pasir Reungit – Puncak Salak 1.

kawah ratu bogor

gowes gunung bunder
Sobat goweser sedang bergaya 😀

Saat kami tiba dikawasan pintu pendakian suasana perkemahan sedang sangat ramai, kelihatannya sedang ada kegiatan sekolah.

Kondisi di kawasan gunung bunder ini cukup nyaman, dipenuhi oleh pohon pinus.

gowes ke kawah ratu

gowes gunung bunder kawah ratu

pohon pinus di gunung bunder kawah ratu halimun salak

Namun entah kenapa saya rasa kawasan gunung bunder ini tidak sesejuk seperti saat pertama kali saya kesini. Dan yang pasti, satu hal yang tidak pernah berubah dan justru semakin menjadi-jadi yaitu seperti biasa… banyak yang pacaran wkwkwk.

Untuk jalurnya sendiri yaitu mulai dari pintu masuk hingga ke pintu pendakian pasir reungit bisa dibilang 60% aspal rusak, 40% batu makadam tingkat sedang,. Yang pasti masih gowesable hehe.

O ya, tambahan saja, tidak perlu khawatir disana bakal kekurangan konsumsi karena banyak yang jualan, asalkan ada duit hehe.

Nah, sekian saja. Terimakasih, salam gowes.